Naon

thumbnail

Baca Juga

Naon ? Naon bae da sagala oge aya. Dari mulai kebutuhan kantor hingga dapur. Kebutuhan kantor diantara meja kantor, kursi kantor, meja komputer, komputer PC, laptop, Notebook, kertas hvs, printer hingga tintanya. Kebutuhan dapur meliputi sendok, cowet, kulkas, mesin cuci hingga Air Conditioner atawa AC aya.


Naon deui ?

Radio Komunikasi atawa RAKOM dari mulai HT China, HT Japan, HT Indonesia sampai HT Malausma ada tersedia di Yapen Komputer Serui. Power Supply dari yang ber-ampere kecil hingga besar ada, diantaranya Sumura, RTVC, TIGER, hingga Maung Ompong oge aya. Anda membutuhkan yang 10A, 20A, 30A,40A sampai yg 120A ada. 

Begitu juga dengan Handphone dari mulai merk China, Samsung hingga Sungsang.

Putri Titipan Tuhan

thumbnail

Baca Juga

Putri Titipan Tuhan -  Ku Tak Pernah Layak

Kalau kata Om Hamdan Erros di Facebook, jangan kebawa baper. Tidak sieh Om karena ini bisa dikatakan sinopsis atau apa saja yang penting bukan sinetron dewa :P
Awalnya sieh karena dengar Lagu Opick Ku Tak Pernah Layak Soundtrack (OST) Putri Titipan Tuhan SCTV terasa begitu dalam syair-syairnya hingga penasaran dengan jalan cerita di sinetronnya.

Lalu ketika kita buka FB selalu ada pertanyaan yang itu-itu saja "Apa yang anda pikirkan sekarang ?" Saya hanya bisa menjawab dalam hati "Ingin Kehidupan Yang Sempurna".Tapi... adakah kehidupan yang sempurna ? Karena setahu saya yang sempurna hanya yang dijepit dijari saya :P

Jelas tak ada kehidupan yang sempurna karena semakin kita mencari kesempurnaan,semakin pula kita tak akan pernah mendapatkannya. Karena sejatinya kesempurnaan yg hakiki tdk pernah ada, yg ada hanyalah keikhlasan hati kita untuk menerima kekurangan.


Kalau kita melihat sekilas pada keluarga Bunda Hapsari pada sinetron Putri Titipan Tuhan adalah keluarga sukses atas "kebahagian" dgn anak" yg cantik juga cerdas. Nadira calon dokter, Lula yang belum genap berumur 21 akan lulus dari fakultas komunikasi, Keysha masih kuliah di Semarang dan Fauzan satu-satunya anak laki-laki Bunda Hapsari yang dikenal sangat cerdas dan santun. Semuanya terlihat seperti sempurna.

Pak Salman yang bekerja sebagai PNS guru SMP dan Bunda Hapsari juga bekerja sebagai PNS Guru SD dikenal sebagai pasangan suami istri sederhana yang sukses dalam mendidik anak-anak mereka. Sekilas kita menebak kalau kelak masa depan anak-anaknya yang cantik-cantik dan cerdas-cerdas itu akan cerah.

Tapi Tuhan berkehendak lain, cobaan datang silih berganti pada Bunda Hapsari. Lula syok dan hilang akal, akibat mengalami kecelakaan lalu lintas dan menyaksikan sendiri ayahnya Pak Salman terlindas truk hingga meninggal. Efisode kemarin malam malah Keysha yang masih kuliah di Semarang hamil sebelum nikah,akibat ulah pacarnya.

Next ......dan pantau terus bila anda penasaran dengan kelanjutan kisah Putri Titipan Tuhan di TV anda. Karena saya cuma bermaksud memberi gambaran bahwa tak ada kehidupan yang semulus jalan tol Jagorawi. Selalu ada cobaan dan rintangan yang bisa kita hadapi hanya dengan kesabaran. Contoh jelas kesabaran ada pada Bunda Hapsari.

Toooh....Tuhan memberikan cobaan agar kita mampu bersabar. Marilah kita sadari bahwa apa yg kita dapatkan hari ini adalah yg terbaik dan kita harus berprasangka baik kepada Allah dan jangan pernah sedikitpun meragukan keAgungan Allah karena sesungguhnya kesadaran akan menerima segala yang terjadi dan berbuat yang terbaik saat ini akan menjadikan hidup kita semakin indah dan penuh warna.

Oh ya...yang butuh Lirik Lagu Opick  - Ku Tak Pernah Layak silahkan cermati disini :

Semisai buih di samudera
Sebanyak bintang di angkasa
Karunia yang t'lah kau beri
Untukku... di hidup
Sebening embun pagi
Setitik cahaya cinta
Yang kudamba.... menjadi
Seluruh mimpi hidupku,,,,

meski ku tak pernah layak
hadir dan campakkan cintamu
meski t'lah jauh ku berlari
mencari arti hidup ku

Meski ku tak pernah mampu
menapak jauh ijinkan aku
bersujudku dan berharap
mohon sedikit cintamu
haaaa...haaa...haaa

lebih dalam dari samudera
lebih tinggi dari khayalku
kasih sayang yang kau beri
untukku..untukku

hanyalah air mata ....yang ku punya hari ini
ku memohon ...ku meminta... kasihanilah diriku

Meski ku tak pernah layak
Hadirkan makna cintamu
Meski t'lah jauh ku berlari
Mencari arti hidupku

Meski ku tak pernah mampu
Bila tak kau ijinkan aku
Bersujudku dan berharap
Mohon setitik cintamu

Meski ku tak pernah layak
Meski t'lah jauh ku berlari
Mencari arti hidupku

Meski ku tak pernah mampu
Bersujudku dan berharap
Mohon setitik cintamu...

Ku Tak Pernah Layak ..... peun !

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H

thumbnail

Baca Juga

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H - Tak terasa tinggal beberapa hari lagi kita akan ditinggalkan bulan yang penuh berkah ini, bulan suci Ramadhan. Ada "rindu" magrib yang akan sirna karena bulan-bulan biasa rindu magrib tak akan sengotot rindu pada bulan Ramadhan :P


Kita sudah bekerja keras untuk tidak tergolongkan pada orang-orang yang cuma menyisakan rasa lapar saja dari puasa kita. Kita sudah sekuat tenaga untuk menyempurnakan "berkah" bulan suci ini. Kita berharap bulan suci ini menjadi penyebab hijrahnya kita kearah dan prilaku yang lebih baik...Aamiin.

Kewajiban manusia pada dasarnya tak lebih dari hanya berusaha dan berikhtiar, karena urusan balasan amal adalah wewenang-NYA. Atas nama admin dari blog tak laik dibaca ini Naon Wae Lah memohon maaf bila ada tulisan saudara yang saya copas atau ada komentar saudara yang tidak saya jawab, semata karena alasan kesibukan offline saja, saya minta maaf.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H. Taqobbalallahu minna wa minkum. Barakallahu Fiikum !

Sunda

thumbnail

Baca Juga

Sunda - Urang Sunda (Suku Sunda) adalah kelompok etnis yang berasal dari bagian barat pulau Jawa, Indonesia, dengan istilah Tatar Pasundan yang mencakup wilayah administrasi provinsi Jawa Barat, Banten, Jakarta, Lampung dan wilayah barat Jawa Tengah (Banyumasan). Orang Sunda tersebar diberbagai wilayah Indonesia, dengan provinsi Banten dan Jawa Barat sebagai wilayah utamanya.


Jati diri yang mempersatukan orang Sunda adalah bahasanya dan budayanya. Orang Sunda dikenal memiliki sifat optimistis, ramah, sopan, riang dan bersahaja. Orang Portugis mencatat dalam Suma Oriental bahwa orang sunda bersifat jujur dan pemberani. Orang sunda juga adalah yang pertama kali melakukan hubungan diplomatik secara sejajar dengan bangsa lain.

Sunda
Berdasarkan “Sastrajenrahayuningrat” istilah “Sunda” dibentuk oleh tiga suku kata yaitu SU-NA-DA yang artinya adalah “matahari” ;
–          SU = Sejati/ Abadi
–          NA = Api
–          DA = Besar/ Gede/ Luas/ Agung
Dalam kesatuan kalimat “Sunda” mengandung arti “Sejati-Api-Besar” atau “Api Besar yang Sejati atau bisa juga berarti Api Agung yang Abadi”. Maksud dan maknanya adalah matahari atau “Sang Surya” (Panon Poe/ Mata Poe/ Sang Hyang Manon). Sedangkan kata “Sastrajenrahayuningrat” (Su-Astra-Ajian-Ra-Hayu-ning-Ratu) memiliki arti sebagai berikut;
–          Su = Sejati/ Abadi
–          Astra = Sinar/ Penerang
–          Ajian = Ajaran
–          Ra = Matahari (Sunda)
–          Hayu = Selamat/ Baik/ Indah
–          ning = dari
–          Ratu = Penguasa (Maharaja)
Dengan demikian “Sastrajenrahayuningrat” jika diartikan secara bebas adalah “Sinar Sejati Ajaran Matahari – Kebaikan dari Sang Ratu” atau “Penerang yang Abadi Ajaran Matahari – Kebaikan dari Sang Maharaja” atau boleh jadi maksudnya ialah “Sinar Ajaran Matahari Abadi atas Kebaikan dari Sang Penguasa/ Ratu/ Maharaja Nusantara”, dst.
“Sunda” sama sekali bukan nama etnis/ ras/ suku yang tinggal di pulo Jawa bagian barat dan bukan juga nama daerah, karena sesungguhnya “Sunda” adalah nama ajaran atau agama tertua di muka Bumi, keberadaannya jauh sebelum ada jenis agama apapun yang dikenal pada saat sekarang.
Agama “Sunda” merupakan cikal-bakal ajaran tentang “cara hidup sebagai manusia beradab hingga mencapai puncak kemanusiaan yang tertinggi (adi-luhung). Selain itu agama Sunda juga yang mengawali lahirnya sistem pemerintahan dengan pola karatuan  (kerajaan) yang pertama di dunia, terkenal dengan konsep SITUMANG (Rasi-Ratu-Rama-Hyang) dengan perlambangan “anjing” (tanda kesetiaan).
Ajaran/ agama Sunda (Matahari) pada mulanya disampaikan oleh Sang Sri Rama Mahaguru Ratu Rasi Prabhu Shindu La-Hyang (Sang Hyang Tamblegmeneng) putra dari Sang Hyang Watu Gunung Ratu Agung Manikmaya yang lebih dikenal sebagai Aji Tirem (Aki Tirem) atau Aji Saka Purwawisesa.
Ajaran Sunda lebih dikenal dengan sebutan Sundayana (yana = way of life, aliran, ajaran, agama) artinya adalah “ajaran Sunda atau agama Matahari” yang dianut oleh bangsa Galuh, khususnya di Jawa Barat.
Sundayana disampaikan secara turun-temurun dan menyebar ke seluruh dunia melalui para Guru Agung (Guru Besar/ Batara Guru), masyarakat Jawa-Barat lebih mengenalnya dengan sebutan Sang Guru Hyang atau “Sangkuriang” dan sebagian lagi memanggilnya dengan sebutan “Guriang” yang artinya “Guru Hyang” juga.
Landasan inti ajaran Sunda adalah “welas-asih” atau cinta-kasih, dalam bahasa Arab-nya disebut “rahman-rahim”, inti ajaran inilah yang kelak berkembang menjadi pokok ajaran seluruh agama yang ada sekarang, sebab adanya rasa welas-asih ini yang menjadikan seseorang layak disebut sebagai manusia. Artinya, dalam pandangan agama Sunda (bangsa Galuh) jika seseorang tidak memiliki rasa welas-asih maka ia tidak layak untuk disebut manusia, pun tidak layak disebut binatang, lebih tepatnya sering disebut sebagai Duruwiksa (Buta) mahluk biadab.
Agar pemahaman ke depan tidak menjadi rancu dan membingungkan dalam memahami istilah “Sinar (Astra/ Ra/ Matahari), Cahaya (Dewa) dan Terang” maka perlu dijelaskan sebagai berikut;
CAHAYA
Sundayana terbagi dalam tiga bidang ajaran dalam satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisah (Kemanunggalan) yaitu;
  1. Tata-Salira/ Kemanunggalan Diri; berisi tentang pembentukan kualitas manusia yaitu, meleburkan diri dalam “ketunggalan” agar menjadi “diri sendiri” (si Swa) yang beradab, merdeka dan berdaulat atau menjadi seseorang yang tidak tergantung kepada apapun dan siapapun selain kepada diri sendiri.
  2. Tata-Naga-Ra/ Kemanunggalan Negeri; yaitu memanunggalkan masyarakat/ bangsa (negara) dalam berkehidupan di Bumi secara beradab, merdeka dan berdaulat. Pembangunan negara yang mandiri, tidak menjajah dan tidak dijajah.
  3. Tata-Buana/ Kemanunggalan Bumi; ialah kebijakan universal (kesemestaan) untuk memanunggalkan Bumi dengan segala isinya dalam semesta kehidupan agar tercipta kedamaian hidup di Buana.
Sesuai dengan bentuk dan dasar pemikiran ajaran Matahari sebagai sumber cahaya maka tata perlambangan wilayah di sekitar Jawa-Barat banyak yang mempergunakan sebutan “Ci” yang artinya “Cahaya”, dalam bahasa India disebut sebagai deva/ dewa (cahaya) yaitu pancaran (gelombang) yang lahir dari Matahari berupa warna-warna. Terdapat lima warna cahaya utama (Pancawarna) yang menjadi landasan filosofi kehidupan bangsa Galuh penganut ajaran Sunda:
  1. Cahaya Putih di timur disebut Purwa, tempat Hyang Iswara.
  2. Cahaya Merah di selatan disebut Daksina, tempat Hyang Brahma.
  3. Cahaya Kuning di barat disebut Pasima, tempat Hyang Mahadewa.
  4. Cahaya Hitam di utara disebut Utara, tempat Hyang Wisnu.
  5. Segala Warna Cahaya di pusat disebut Madya, tempat Hyang Siwa.
Lima kualitas “Cahaya” tersebut sesungguhnya merupakan nilai “waktu” dalam hitungan “wuku”. Kelima wuku (wuku lima) tidak ada yang buruk dan semuanya baik, namun selama ini Sang Hyang Siwa (pelebur segala cahaya/ warna) telah disalah-artikan menjadi “dewa perusak”, padahal arti kata “pelebur” itu adalah “pemersatu” atau yang meleburkan atau memanunggalkan. Jadi, sama sekali tidak terdapat ‘dewa’ yang bersifat merusak dan menghancurkan.
Ajaran Sunda dalam silib-siloka PANAH CHAKRA
Ajaran Sunda dalam silib-siloka “Panah Chakra”
“Ajaran Sunda” di dalam cerita pewayangan dilambangkan dengan Jamparing Panah Chakra, yaitu ‘raja segala senjata’ milik Sang Hyang Wisnu yang dapat mengalahkan sifat jahat dan angkara-murka, tidak ada yang dapat lolos dari bidikan Jamparing Panah Chakra. Maksudnya adalah;
–          Jamparing = Jampe Kuring
–          Panah = Manah = Hati (Rasa Welas-Asih)
–          Chakra atau Cakra = Titik Pusaran yang bersinar/ Roda Penggerak Kehidupan (‘matahari’).
–          Secara simbolik gendewa (gondewa) merupakan bentuk bibir yang sedang tersenyum (?).
CHAKRA
 Panah Chakra di Jawa Barat biasa disebut sebagai “Jamparing Asih” maksudnya adalah “Ajian Manah nu Welas Asih” (ajian hati yang lembut penuh dengan cinta-kasih). Dengan demikian maksud utama dari Jamparing Panah Chakra atau Jamparing Asih itu ialah “ucapan yang keluar dari hati yang welas asih dapat menggerakan roda kehidupan yang bersinar”.
Keberadaan Panca Dewa kelak disilib-silokakan (diperlambangkan) ke dalam kisah “pewayangan” dengan tokoh-tokoh baru melalui kisah Ramayana (Ajaran Rama) serta kisah Mahabharata pada tahun +/-1500 SM; Yudis-ti-Ra, Bi-Ma, Ra-ju-Na, Na-ku-La, dan Sa-Dewa. Kelima cahaya itu kelak dikenal dengan sebutan “Pandawa” singkatan dari “Panca Dewa” (Lima Cahaya) yang merupakan perlambangan atas sifat-sifat kesatria negara. Istilah “wayang” itu sendiri memiliki arti “bayang-bayang”, maksudnya adalah perumpamaan dari kelima cahaya tersebut di atas.
Selama ini cerita wayang selalu dianggap ciptaan bangsa India, hal tersebut mungkin “benar” tetapi boleh jadi “salah”. Artinya kemungkinan terbesar adalah bangsa India telah berjasa melakukan pencatatan tentang kejadian besar yang pernah ada di Bumi Nusantara melalui kisah pewayangan dalam cerita epos Ramayana dan Mahabharata. Logika sederhananya adalah; India dikenal sebagai bangsa Chandra (Chandra Gupta) sedangkan Nusantara dikenal sebagai bangsa Matahari (Ra-Hyang), dalam hal ini tentu Matahari lebih unggul dan lebih utama ketimbang Bulan. India diterangi atau dipengaruhi oleh ajaran dan kebudayaan Nusantara. Namun demikian tidak dapat disangkal bahwa bukti (jejak) peninggalan yang maha agung itu di Bumi Nusantara telah banyak dilupakan, diselewengkan hingga dimusnahkan oleh bangsa Indonesia sendiri sehingga pada saat ini kita sulit untuk membuktikannya melalui “kebenaran ilmiah”.
Berkaitan dengan persoalan “Pancawarna”, bagi orang-orang yang lupa kepada “jati diri” (sebagai bangsa Matahari) di masyarakat Jawa-Barat dikenal peribahasa “teu inget ka Purwa Daksina…!” artinya adalah “lupa kepada Merah-Putih” (lupa akan kebangsaan/ tidak tahu diri/ tidak ingat kepada jati diri sebagai bangsa Galuh penganut ajaran Sunda).
Banyak orang Jawa Barat mengaku dirinya sebagai orang “Sunda”, mereka mengagungkan “Sunda” sebagai genetika biologis dan budayanya yang membanggakan, bahkan secara nyata perilaku diri mereka yang lembut telah menunjukan kesundaannya (sopan-santun dan berbudhi), namun unik dan anehnya mereka ‘tidak mengakui’ bahwa itu semua adalah hasil didikan Agama Sunda yang telah mereka warisi dari para leluhurnya secara turun-temurun, seolah telah menjadi genetika religi pada diri manusia Galuh.
Masyarakat Jawa Barat tidak menyadari (tidak mengetahui) bahwa perilaku lembut penuh tata-krama sopan-santun dan berbudhi itu terjadi akibat adanya “ajaran” (agama Sunda) yang mengalir di dalam darah mereka dan bergerak tanpa disadari (refleks). Untuk mengatakan kejadian tersebut para leluhur menyebutnya sebagai;
“nyumput buni di nu caang” (tersembunyi ditempat yang terang) artinya adalah; mentalitas, pikiran, perilaku, seni, kebudayaan, filosofi dll. yang mereka lakukan sesungguhnya adalah hasil didikan agama Sunda tetapi si pelaku sendiri tidak mengetahuinya.
Inti pola dasar ajaran Sunda adalah “berbuat baik dan benar yang dilandasi oleh kelembutan rasa welas-asih”. Pola dasar tersebut diterapkan melalui Tri-Dharma (Tiga Kebaikan) yaitu sebagai pemandu ‘ukuran’ nilai atas keagungan diri seseorang/ derajat manusia diukur berdasarkan dharma (kebaikan) :
  1. Dharma Bakti, ialah seseorang yang telah menjalankan budhi kebaikan terhadap diri, keluarga serta di lingkungan kecil tempat ia hidup, manusianya bergelar “Manusia Utama”.
  2. Dharma Suci, ialah seseorang yang telah menjalankan budhi kebaikan terhadap bangsa dan negara, manusianya bergelar “Manusia Unggul Paripurna” (menjadi idola).
  3. Dharma Agung, ialah seseorang yang telah menjalankan budhi kebaikan terhadap segala peri kehidupan baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat, yang tercium, yang tersentuh dan tidak tersentuh, segala kebaikan yang tidak terbatasi oleh ruang dan waktu, manusianya bergelar “Manusia Adi Luhung” (Batara Guru)
Nilai-nilai yang terkandung di dalam Tri-Dharma ini kelak menjadi pokok ajaran “Budhi-Dharma” (Buddha) yang mengutamakan budhi kebaikan sebagai bukti dan bakti rasa welas-asih terhadap segala kehidupan untuk mencapai kebahagiaan, atau pembebasan diri dari kesengsaraan.
Ajaran ini kelak dilanjutkan dan dikembangkan oleh salah seorang tokoh Mahaguru Rasi Shakyamuni – Sidharta Gautama (‘Sang Budha’), seorang putra mahkota kerajaan Kapilawastu di Nepal – India.
Pembentukan Tri-Dharma Sunda dilakukan melalui tahapan yang berbeda sesuai dengan tingkatan umurnya (?) yaitu :
  1. Dharma Rasa, ialah mendidik diri untuk dapat memahami “rasa” (kelembutan) di dalam segala hal, sehingga mampu menghadirkan keadaan “ngarasa jeung rumasa” (menyadari rasa dan memahami perasaan). Dengan demikian dalam diri seseorang kelak muncul sifat menghormati, menghargai, dan kepedulian terhadap sesama serta kemampuan merasakan yang dirasakan oleh orang lain (pihak lain), hal ini merupakan pola dasar pembentukan sifat “welas-asih” dan manusianya kelak disebut “Dewa-Sa”.
  2. Dharma Raga, adalah mendidik diri dalam bakti nyata (bukti) atau mempraktekan sifat rasa di dalam hidup sehari-hari (*bukan teori) sehingga kelak keberadaan/ kehadiran diri dapat diterima dengan senang hati (bahagia) oleh semua pihak dalam keadaan “ngaraga jeung ngawaruga” (menjelma dan menghadirkan). Hal ini merupakan pola dasar pembentukan perilaku manusia yang dilandasi oleh kesadaran rasa dan pikiran. Seseorang yang telah mencapai tingkatan ini disebut “Dewa-Ta”.
  3. Dharma Raja, adalah mendidik diri untuk menghadirkan “Jati Diri” sebagai manusia “welas-asih” yang seutuhnya dalam segala perilaku kehidupan “memberi tanpa diberi” atau memberi tanpa menerima (tidak ada pamrih). Tingkatan ini merupakan pencapaian derajat manusia paling terhormat yang patut dijadikan suri-teladan bagi semua pihak serta layak disebut (dijadikan) pemimpin.
Ajaran Sunda berlandas kepada sifat bijak-bajik Matahari  yang menerangi dan membagikan cahaya terhadap segala mahluk di penjuru Bumi tanpa pilih kasih dan tanpa membeda-bedakan. Matahari telah menjadi sumber utama yang mengawali kehidupan penuh suka cita, dan tanpa Matahari segalanya hanyalah kegelapan. Oleh sebab itulah para penganut ajaran Sunda berkiblat kepada Matahari (Sang Hyang Tunggal) sebagai simbol ketunggalan dan kemanunggalan yang ada di langit, dan kiblat agama Sunda itu bukan diciptakan oleh manusia.
Sundayana menyebar ke seluruh dunia, terutama di wilayah Asia, Eropa, Amerika dan Afrika, sedangkan di Australia tidak terlalu menampak. Oleh masyarakat Barat melalui masing-masing kecerdasan kode berbahasa mereka ajaran Matahari ini diabadikan dalam sebutan SUNDAY (hari Matahari), berasal dari kata “Sundayana”dan bangsa Indonesia lebih mengenal Sunday itu sebagai hari Minggu.
Di wilayah Amerika kebudayaan suku Indian, Maya dan Aztec pun tidak terlepas dari pemujaan kepada Matahari, demikian pula di wilayah Afrika dan Asia, singkatnya hampir seluruh bangsa di dunia mengikuti ajaran leluhur bangsa Galuh Agung (Nusantara) yang berlandaskan kepada tata-perilaku berbudhi dengan rasa “welas-asih” (cinta-kasih).
Jejak keberadaan ajaran agama Sunda yang kemudian berkembang hingga saat ini terekam dalam kebudayaan masyarakat Roma (kerajaan Romawi) yang menetapkan tanggal 25 Desember sebagai “Hari Matahari” (Sunday) yaitu hari pemujaan kepada Matahari (Sunda) dan kini masyarakat Indonesia lebih mengenalnya sebagai hari “Natal”.
Oleh bangsa Barat (Eropa dan Amerika) istilah Sundayana ‘dirobah’ menjadi Sunday sedangkan di Nusantara dikenal dengan sebutan “Surya” (*Bangsa Arya ?) yang berasal dari tiga suku kata yaitu Su-Ra-Yana, bangsa Nusantara memperingatinya dalam upacara “Sura” (Suro) yang intinya bertujuan untuk mengungkapkan rasa menerima-kasih serta ungkapan rasa syukur atas “kesuburan” negara yang telah memberikan kehidupan dalam segala bentuk yang menghidupkan; baik berupa makanan, udara, air, api (kehangatan), tanah, dan lain sebagainya.
Pengertian Surayana pada hakikatnya sama saja dengan Sundayana sebab mengandung maksud dan makna yang sama.
–          SU = Sejati
–          RA = Sinar/ Maha Cahaya/ Matahari
–          YANA = way of life/ ajaran/ ageman/ agama
Maka arti “Surayana” adalah sama dengan “Agama Matahari yang Sejati” dan dikemudian hari bangsa Indonesia mengenal dan mengabadikannya dengan sebutan “Sang Surya” untuk mengganti istilah “Matahari”.
Perobahan istilah SUNDA
Perobahan istilah “Sunda”
Sekilas gambaran di atas boleh jadi hanya bersifat gatuk (mencocok-cocokan), namun mustahil jika kemiripan penanda (sebutan dan objek) itu terjadi dengan sendirinya tanpa sebab, selain itu terjadi pula kemiripan pada nilai-nilai yang bersifat prinsip dan mustahil pula jika tidak ada yang memulai dan mengajarkannya. Tentu “tidak mungkin ada akibat jika tanpa sebab” (hukum aksi-reaksi), dalam pepatah leluhur bangsa Nusantara menyebutkan “tidak ada asap jika tidak ada api” atau “mustahil ada ranting jika tidak ada dahan” maka segalanya pasti ada yang memulai dan mengajarkan.
5000 tahun sebelum penanggalan Masehi di Asia dalam sejarah peradaban bangsa Mesir kuno  menerangkan (menggambarkan) tentang keberadaan ajaran Matahari dari bangsa Galuh, mereka menyebutnya sebagai “RA” yang artinya adalah Sinar/ Astra/ Matahari/ Sunda.
“RA” digambarkan dalam bentuk “mata” dan diposisikan sebagai “Penguasa Tertinggi” dari seluruh ‘dewa-dewa’ bangsa Mesir kuno yang lainnya, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bangsa Mesir kuno-pun menganut dan mengakui Sundayana (Agama Matahari) yang dibawa dan diajarkan oleh leluhur bangsa Galuh.
Disisi lain bangsa Indonesia saat ini mengenal bentuk dan istilah “mata” (eye) yang mirip dengan gambaran “AMON-RA” bangsa Mesir kuno, sebutan “amon” mengingatkan kita kepada istilah “panon” yang berarti “mata” yang terdapat pada kata “Sang Hyang Manon” yaitu penamaan lain bagi Matahari di masyarakat Jawa Barat jaman dahulu (*apakah kata Amon dan Manon memiliki makna yang sama?)




Selain di Asia (Mesir) bangsa Indian di Amerika-pun sangat memuja Matahari (sebagai simbol leluhur, dan mereka menyebut dirinya sebagai bangsa “kulit merah”) bahkan masyarakat Inca, Aztec dan Maya di daerah Amerika latin membangun kuil pemujaan yang khusus ditujukan bagi Matahari, hingga mereka menggunakan pola penghitungan waktu yang berlandas pada peredaran Matahari, mirip dengan di Nusantara (pola penanggalan Saka = Pilar Utama = Inti / Pusat Peredaran = Matahari).





Masyarakat suku Inca di Peru (Amerika Latin) membangun tempat pemujaan kepada Matahari di puncak bukit yang disebut Machu Picchu. Dalam hal ini terlihat jelas bahwa secara umum konsep “meninggikan dengan pondasi yang kokoh” dalam kaitannya dengan “keagungan“ (tinggi, luhur, puncak, maha) merupakan landas berpikir yang utama agama Sunda.
Secara filosofis, pola bentuk ‘bangunan’ menuju puncak meruncing (gunungan) itu merupakan perlambangan para Hyang yang ditinggikan atau diluhurkan, hal inipun merupakan silib-siloka tentang perjalanan manusia dari “ada” menuju “tiada” (langit), dari jelma menjadi manusia utama hingga kelak menuju puncak kualitas manusia adiluhung (maha agung).
Demikian pula yang dilakukan oleh suku Maya di Mexico pada jaman dahulu, mereka secara khusus membangun tempat pemujaan (kuil/pura) kepada Matahari (Sang Hyang Tunggal).




Pada jaman dahulu hampir seluruh bangsa di benua Amerika (penduduk asli) memuja kepada Matahari, dan hebatnya hampir semua bangsa menunjukan hasil kebudayaan yang tinggi. Kemajuan peradaban dalam bidang arsitektur, cara berpakaian, sistem komunikasi (baik bentuk lisan, tulisan, gaya bahasa, serta gambar), adab upacara, dll. Kemajuan dalam bidang pertanian dan peternakan tentu saja yang menjadi yang paling utama, sebab hal tersebut menunjukan kemakmuran masyarakat, artinya mereka dapat hidup sejahtera tentram dan damai dalam kebersamaan hingga kelak mampu melahirkan keindahan dan keagungan dalam berkehidupan (berbudaya).
Sekitar abad ke XV kebudayaan agung bangsa Amerika latin mengalami keruntuhan setelah datangnya para missionaris Barat yang membawa misi Gold, Glory dan Gospel. Tujuan utamanya tentu saja Gold (emas/ kekayaan) dan Glory (kejayaan/ kemenangan) sedangkan Gospel (agama) hanya dijadikan sebagai kedok politik agar seolah-olah mereka bertujuan untuk “memberadabkan” sebuah bangsa.
Propaganda yang mereka beritakan tentang perilaku biadab agama Matahari dan kelak dipercaya oleh masyarakat dunia adalah bahwa; “suku terasing penyembah matahari itu pemakan manusia”, hal ini mirip dengan yang terjadi di Sumatra Utara serta wilayah lainnya di Indonesia. Dibalik propaganda tersebut maksud sesungguhnya kedatangan para ‘penyebar agama’ itu adalah perampokan kekayaan alam dan perluasan wilayah jajahan (imperialisme), sebab mustahil bangsa yang sudah “beragama” harus ‘diagamakan’ kembali dengan ajaran yang tidak berlandas kepada nilai-nilai kebijakan dan kearifan lokalnya.
Dalam pandangan penganut agama Sunda (bangsa Galuh) yang dimaksud dengan “peradaban sebuah bangsa (negara)” tidak diukur berdasarkan nilai-nilai material yang semu dan dibuat-buat oleh manusia seperti bangunan megah, emas serta batu permata dan lain sebagainya melainkan terciptanya keselarasan hidup bersama alam (keabadian). Prinsip tersebut tentu saja sangat bertolak-belakang dengan negara-negara lain yang kualitas geografisnya tidak sebaik milik bangsa beriklim tropis seperti di Nusantara dan negara tropis lainnya. Leluhur Galuh mengajarkan tentang prinsip kejayaan dan kekayaan sebuah negara sebagai berikut :
“Gunung kudu pageuh, leuweung kudu hejo, walungan kudu herang, taneuh kudu subur, maka bagja rahayu sakabeh rahayatna”
(Gunung harus kokoh, hutan harus hijau, sungai harus jernih, tanah harus subur, maka tentram damai sentausa semua rakyatnya)
“Gunung teu meunang dirempag, leuweung teu meunang dirusak”
(Gunung tidak boleh dihancurkan, hutan tidak boleh dirusak)



Kuil (tempat peribadatan) pemujaan Matahari hampir seluruhnya dibangun berdasarkan pola bentuk “gunungan” dengan landasan segi empat yang memuncak menuju satu titik. Boleh jadi hal tersebut berkaitan erat dengan salah satu pokok ajaran Sunda dalam mencapai puncak kualitas bangsa (negara) seperti Matahari yang bersinar terang, atau sering disebut sebagai “Opat Ka Lima Pancer” yaitu; empat unsur inti alam (Api, Udara, Air, Tanah) yang memancar menjadi “gunung” sebagai sumber kehidupan mahluk.
Menilik bentuk-bentuk simbolik serta orientasi pemujaannya maka dapat dipastikan bahwa piramida di wilayah Mesir-pun sesungguhnya merupakan kuil Matahari (Sundapura). Walaupun sebagian ahli sejarah mengatakan bahwa piramid itu adalah kuburan para raja namun perlu dipahami bahwa raja-raja Mesir kuno dipercaya sebagai; Keturunan Matahari/ Utusan Matahari/ Titisan Matahari/ ataupun Putra Matahari, dengan demikian mereka setara dengan “Putra Sunda”(Utusan Sang Hyang Tunggal).
Untuk sementara istilah “Putra Sunda” bagi para raja Mesir kuno dan yang lainnya tentu masih terdengar janggal dan aneh sebab selama ini sebutan “Sunda” selalu dianggap sebagai suku, ras maupun wilayah kecil yang ada di pulo Jawa bagian barat saja, istilah “Sunda” seolah tidak pernah terpahami oleh bangsa Indonesia pun oleh masyarakat Jawa Barat sendiri.
Tidak diketahui waktunya secara tepat, Sang Narayana Galuh Hyang Agung (Galunggung) mengembangkan dan mengokohkan ajaran Sunda di Jepang, dengan demikian RA atau Matahari begitu kental dengan kehidupan masyarakat Jepang, mereka membangun tempat pemujaan bagi Matahari yang disebut sebagai Kuil Nara (Na-Ra / Api-Matahari) dan masyarakat Jepang dikenal sebagai pemuja Dewi Amate-Ra-Su Omikami yang digambarkan sebagai wanita bersinar (Astra / Aster / Astro / Astral / Austra).




Tidak hanya itu, penguasa tertinggi “Kaisar Jepang” pun dipercaya sebagai titisan Matahari atau Putra Matahari (Tenno) dengan kata lain para kaisar Jepang-pun bisa disebut sebagai “Putra Sunda” (Anak/ Utusan/ Titisan Matahari) dan hingga saat ini mereka mempergunakan Matahari sebagai lambang kebangsaan dan kenegaraan yang dihormati oleh masyarakat dunia.

Dikemudian hari Jepang dikenal sebagai negeri “Matahari Terbit” hal ini disebabkan karena Jepang mengikuti jejak ajaran leluhur bangsa Nusantara, hingga pada tahun 1945 ketika pasukan Jepang masuk ke Indonesia dengan misi “Cahaya Asia” mereka menyebut Indonesia sebagai “Saudara Tua” untuk kedok politiknya.
Secara mendasar ajaran para leluhur bangsa Galuh dapat diterima di seluruh bangsa (negara) karena mengandung tiga pokok ajaran yang bersifat universal (logis dan realistis), tanpa tekanan dan paksaan yaitu :
  1. Pembentukan nilai-nilai pribadi manusia (seseorang) sebagai landasan pokok pembangunan kualitas keberadaban sebuah bangsa (masyarakat) yang didasari oleh nilai-nilai welas-asih (cinta-kasih).
  2. Pembangunan kualitas sebuah bangsa menuju kehidupan bernegara yang adil-makmur-sejahtera dan beradab melalui segala sumber daya bumi (alam/ lingkungan) di wilayah masing-masing yang dikelola secara bijaksana sesuai dengan kebutuhan hidup sehari-hari.
  3. Pemeliharaan kualitas alam secara selaras yang kelak menjadi pokok kekayaan atau sumber daya utama bagi kehidupan yang akan datang pada sebuah bangsa, dan kelak berlangsung dari generasi ke generasi (berkelanjutan).
Demikian ajaran Sunda (Sundayana/ Surayana/ Agama Matahari) menyebar ke seluruh penjuru Bumi dibawa oleh para Guru Hyang memberikan warna dalam peradaban masyarakat dunia yang diserap dan diungkapkan (diterjemahkan) melalui berbagai bentuk tanda berdasarkan pola kecerdasan masing-masing bangsanya.
Ajaran Sunda menyesuaikan diri dengan letak geografis dan watak masyarakatnya secara selaras (harmonis) maka itu sebabnya bentuk bangunan suci (tempat pemujaan) tidak menunjukan kesamaan disetiap negara, tergantung kepada potensi alamnya. Namun demikian pola dasar bangunan dan filosofinya memiliki kandungan makna yang sama, merujuk kepada bentuk gunungan.
Di Indonesia sendiri simbol “RA” (Matahari/ Sunda) sebagai ‘penguasa’ tertinggi pada jaman dahulu secara nyata teraplikasikan pada berbagai sisi kehidupan dalam berbangsa dan bernegara. Hal itu diungkapkan dalam bentuk (rupa) serta penamaan yang berkaitan dengan istilah “RA” (Matahari) sebagai sesuatu yang sifat agung maupun baik, seperti;
  1. Konsep wilayah disebut “Naga-Ra/ Nega-Ra”
  2. Lambang negara disebut “Bende-Ra”
  3. Maharaja Nusantara bergelar “Ra-Hyang”
  4. Keluarga Kerajaan bergelar “Ra-Keyan dan Ra-Ha-Dian (Raden)”.
  5. Konsep ketata-negaraan disebut “Ra-si, Ra-tu, Ra-ma”
  6. Penduduknya disebut “Ra-Hayat” (rakyat).
  7. Nama wilayah disebut “Dirganta-Ra, Swarganta-Ra, Dwipanta-Ra, Nusanta-Ra, Indonesia (?)”
dll.
Kemaharajaan (Keratuan/ Keraton) Nusantara yang terakhir, “Majapahit” kependekan dari Maharaja-Pura-Hita (Tempat Suci Maharaja yang Makmur-Sejahtera) dikenal sebagai pusat pemerintahan “Naga-Ra” yang terletak di Kadiri – Jawa Timur sekitar abad XIII masih mempergunakan bentuk lambang Matahari, sedangkan dalam panji-panji kenegaraan lainnya mereka mempergunakan warna “merah dan putih” (Purwa-Daksina) yang serupa dengan pataka (‘bendera’) Indonesia saat ini.
Bende-Ra MAJAPAHIT
Bende – Ra Majapahit
Tidak terlepas dari keberadaan ajaran Sunda (Matahari) dimasa lalu yang kini masih melekat diberbagai bangsa sebagai lambang kenegaraan ataupun hal-hal lainnya yang telah berobah menjadi legenda dan mithos, tampaknya bukti terkuat tentang cikal-bakal (awal) keberadaan ajaran Matahari atau agama “Sunda” itu masih tersisa dengan langgeng di Bumi Nusantara  yang kini telah beralih nama menjadi Indonesia.
Di Jawa Kulon (Barat) sebagai wilayah suci tertua (Mandala Hyang) tempat bersemayamnya Leluhur Bangsa Matahari (Pa-Ra-Hyang) hingga saat ini masih menyisakan penandanya sebagai pusat ajaran Sunda (Matahari), yaitu dengan ditetapkannya kata “Tji” (Ci) yang artinya CAHAYA di berbagai wilayah seperti; Ci Beureum (Cahaya Merah), Ci Hideung (Cahaya Hitam), Ci Bodas (Cahaya Putih), Ci Mandiri (Cahaya Mandiri), dan lain sebagainya. Namun sayang banyak ilmuwan Nusantara khususnya dari Jawa Barat malah menyatakan bahwa “Ci” adalah “cai” yang diartikan sebagai “air”, padahal jelas-jelas untuk benda cair itu masyarakat Jawa Barat jaman dulu secara khusus menyebutnya sebagai “Banyu” dan sebagian lagi menyebutnya sebagai “Tirta” (*belum diketahui perbedaan diantara keduanya).
Sebutan “Ci” yang kelak diartikan sebagai “air” (cai/nyai) sesungguhnya berarti “cahaya/ kemilau” yang terpantul di permukaan banyu (tirta) akibat pancaran “sinar” (kemilau). Masalah “penamaan/ sebutan” seperti ini oleh banyak orang sering dianggap sepele, namun secara prinsip berdampak besar terhadap “penghapusan” jejak perjalanan sejarah para leluhur bangsa Galuh Agung pendiri agama Sunda (Matahari).
 
`Cag


Sumber :
1. https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Sunda
2. https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Sunda
3. https://harumankawali.wordpress.com/2012/12/09/naon-ari-sunda

Daftar Call Sign RAPI Wilayah 08 Yapen Serui Gelombang II 2015-2016

thumbnail

Baca Juga

Daftar Call Sign RAPI Wilayah 08 Yapen
Gelombang II 2015-2016

Bisa jadi sebagai "hadiah" dari kerja keras Para Pengurus RAPI Wilayah 08 Yapen Serui  karena lahir bertepatan dengan beberapa hari lag umat muslim menyambut Hari Lebaran 1437 H. Kita sebagai anggota Rapi  cukup gembira dengan Call Sign ini. Kenapa HADIAH ....karena Call Sign ini kita tunggu agak sedikit lama juga. Selamat untuk rekan Rapi yg sudah mendapatkan Call Sign, yg belum harap bersabar.

Menurut Exlopedia bebas

"Dalam dunia penyiaran dan komunikasi radio, tanda panggil (juga dikenal dengan callsign,call sign, atau call letters) adalah tanda pengenal untuk stasiun pemancar Di beberapa negara, tanda panggil digunakan sebagai nama stasiun penyiar, tapi di banyak negara lainnya tidak. Sebuah tanda panggil bisa ditentukan secara resmi oleh sebuah agen pemerintahan, diambil secara ilegal oleh perorangan atau organisasi, atau bahkan dienkripsi untuk menyembunyikan identitas suatu stasiun"


Inilah Para Colsener Rapi Wilayah 08 Yapen Serui Gelombang dua periode 2015-2016 :

1. JZ27HBI ABDUL KADIR MALIYONU (L) July 25, 1975 Jl. Kopi RT.03/04 Anotaurei Yapen Selatan
2. JZ27HBQ ADE YULAN BANUA (L) July 17, 1985 Jl. Moh. Hatta RT.01/03 Serui Jaya Yapen Selatan
3. JZ27HBR AGNES A. PALEMBANGAN (P) August 5, 1988 Jl. ST. Rumbewas Serui Kota Yapen Selatan
4. JZ27EMA AGRA R. PARINSI (L) April 23, 1994 Jl. Hasanudin RT.01/04 Serui Kota Yapen Selatan
5. JZ27HBS AGUS SISWANTO (L) July 2, 1982 Jl. Mangga RT.02/08 Serui Kota Yapen Selatan
6. JZ27HBU ALI JAMI (L) January 1, 1961 Jl. Moh. Yamin RT.01/01 Tarau Yapen Selatan
7. JZ27HBV ANDY MULYA Laki-laki July 25, 1976 Jl. Gajah Mada RT.04/06 Serui Kota Yapen Selatan
8. JZ27HBW ARDIAN AGUNG SETYAWAN Laki-laki May 2, 1981 Jl. Pertanian RT.03/01 Anotaurei Yapen Selatan
9. JZ27HBX ARFANDIE Laki-laki August 12, 1984 Jl. Imam Bonjol RT.03/04 Tarau Yapen Selatan
10. JZ27SRM BAGAS Laki-laki May 4, 1980 JL. Mangga RT.04/06 Serui Kota Yapen Selatan
11. JZ27HBY BAMBANG ISWAHYUDI Laki-laki March 28, 1979 Jl. Kali Dingin, Serui Kota Yapen Selatan
12. JZ27HBZ BASRI BENNU Laki-laki November 9, 1972 Jl. Moh. Toha RT.02/03 Anotaurei Yapen Selatan
13. JZ27HCA BENEDICTUS MUABUAY Laki-laki May 23, 1974 Jl. Nangka Serui Kota Yapen Selatan
14. JZ27WIN BENGAWAN JOKO PRIHANTORO Laki-laki July 22, 1983 Jl. Gajah Mada RT/04.01 Serui Kota Yapen Selatan
15. JZ27VOL BUDIARTO Laki-laki October 12, 1983 Jl. Moh. Yamin RT.01/02 Tarau Yapen Selatan
16. JZ27HCB CHAIRUL ANAS Laki-laki September 24, 1965 Jl. Frans Kaisepo RT.03/04 Yapen Selatan
17. JZ27HCD DWI TEGUH SANTOSO Laki-laki February 2, 1967 Jl. Menawi RT.01/01 Menawi Angkaisera
18. JZ27HCE EDUARD GASPERSZ Laki-laki October 13, 1965 Jl. Pertanian RT.03/02 Anotaurei Yapen Selatan
19. JZ27KRN ENDANG AEP SAEFULAH Laki-laki Mei 3, 1971 Jl. Kopi Anotaurei Yapen Selatan
20. JZ27HCF FATMAWATI Perempuan May 4, 1979 Jl. Gajah Mada RT.02/06 Serui Kota Yapen Selatan
21. JZ27LTD FRANS JERRYS Laki-laki June 1, 1982 Jl. KPR BPD RT.03/04 Serui Kota Yapen Selatan
22. JZ27HCG FREDIK A. TAMA Laki-laki September 9, 1988 Jl. KPR BPD RT.03/04 Serui Kota Yapen Selatan
23. JZ27HCH KUSYANTI Perempuan September 18, 1968 Jl. Frans Kaisepo RT.01/01 Warari Yapen Selatan
24. JZ27HCI HASEMI Laki-laki February 18, 1982 Kp. Ghoyui, Arei Faisei Waropen
25. JZ27HCJ HAMDAN HERMAN Laki-laki July 10, 1981 Jl. Bhayangkara RT.02/02 Serui Kota Yapen Selatan
26. JZ27HCK HARIS SUNANDAR Laki-laki January 1, 1984 Jl. Mangga RT.01/07 Serui Kota Yapen Selatan
27. JZ27HCL HASLINA Perempuan June 2, 1984 Jl. KPR BPD RT.03/04 Serui Kota Yapen Selatan
28. JZ27HCM HERI SETIAWAN Laki-laki May 5, 1968 Jl. ST. Rumbewas RT.04/04 Serui Kota Yapen Selatan
29. JZ27HCN HERMAN BUDIDHARMA BONAY Laki-laki August 8, 1982 Jl. Maluku RT.02/02 Anotaurei Yapen Selatan
30. JZ27HCO HUSNUL MA'RIF Laki-laki September 24, 1997 Jl. Gajah Mada RT.02/06 Serui Kota Yapen Selatan
31. JZ27HCP JAROD YUDO DWI DARPUTRO Laki-laki April 28, 1976 Jl. Silas Papare RT.01/02 Tarau Yapen Selatan
32. JZ27HCQ HUSNAENI Perempuan December 12, 1962 Jl. Gajah Mada RT.02/06 Serui Kota Yapen Selatan
33. JZ27HCR KRISTIANTO Laki-laki March 25, 1986 Jl. Yos Sudarso RT.03/02 Yapen Selatan
34. JZ27HCS MUDDIN Laki-laki May 27, 1971 Jl. Moh. Yamin RT.01/01 Tarau Yapen Selatan
35. JZ27HCT MUHLIS Laki-laki February 9, 1990 Jl. Padat Karya Tarau Yapen Selatan
36. JZ27HCU M. BADARUDDIN Laki-laki December 31, 1967 Jl. Jend. Sudirman Serui Kota Yapen Selatan
37. JZ27HCV MUJAHID ROMLAH Perempuan November 14, 1974 Jl. KPR BPD RT.05/05 Serui Kota Yapen Selatan
38. JZ27HCW NAJEMUDDIN Laki-laki January 3, 1977 Kampung Rorisi Ureifaisei
39. JZ27HCX NURLAILA Perempuan November 11, 1977 Jl. Frans Kaisepo RT.01/01 Warari Yapen Selatan
40. JZ27HCY PAULUS GARANTA Laki-laki September 18, 1980 Jl. KPR BPD RT.03/04 Serui Kota Yapen Selatan
41. JZ27HCZ PUGUH YOGA SADMIKO Laki-laki March 17, 1978 Jl. Sota Sore RT.01/03 Famboaman Yapen Selatan
41. JZ27VIP MUJIASIH Perempuan July 11, 1980 Jl. Gajah Mada RT.03/03 Serui Kota Yapen Selatan
42. JZ27HDA RAHMAD KANO Laki-laki September 9, 1979 Jl. Lumba-Lumba Tarau Yapen Selatan
43. JZ27PAY RIFAI KARIM Laki-laki May 1, 1981 Jl. Padat Karya RT.02/02 Tarau Yapen Selatan
44. JZ27HDB SABAR BUDI PRIYANTO Laki-laki April 8, 1983 Jl. Pertanian RT.03/02 Anotaurei Yapen Selatan
45. JZ27HDC SABRI MARLI Laki-laki February 25, 1979 Jl. Sumatera RT.02/04 Anotaurei Yapen Selatan
46. JZ27LMS SIDIK SUHARYADI Laki-laki September 24, 1981 Jl. Frans Kaisepo RT.02/00 Serui Kota Yapen Selatan
47. JZ27HDD SIRJON PAKIDING Laki-laki June 5, 1967 Jl. KPR BPD RT.05/05 Serui Kota Yapen Selatan
48. JZ27HDE SUPRIYADI Laki-laki April 5, 1959 Jl. Maluku RT.04/05 Anotorei Yapen Selatan
49. JZ27HDF SURYANTO YOHANIS SINA Laki-laki September 1, 1973 Kamp. Kainui II Angkaisera Angkaisera
50. JZ27HDG UMAR SAID Laki-laki October 29, 1981 Jl. Sumatera RT.02/04 Anotaurei Yapen Selatan
51. JZ27HDH VECKY ALLAN S. MODOK Laki-laki January 4, 1980 Jl. Pattimura Serui Kota Yapen Selatan
52. JZ27WDI WAHYU DARUL IKRAM Laki-laki May 8, 1985 Jl. Moh. Toha RT.02/03 Anotaurei Yapen Selatan
53. JZ27WAR WAHYUDDIN ADAM Laki-laki February 28, 1979 Jl. Gajah Mada Bawah No. 47 Serui Kota Yapen Selatan
54. JZ27BOS YUSRAN Laki-laki July 2, 1969 Jl. KPR BPD RT.03/05 Serui Kota Yapen Selatan
55. JZ27HDI YUDI PALEMBANGAN Laki-laki August 13, 1982 Jl. ST. Rumbewas Serui Kota Yapen Selatan
56. JZ27HDJ YULIANUS RAUBABA Laki-laki July 8, 1973 Gang Mambruk RT.03/02 Mariadei Yapen Selatan
57. JZ27HDK YUSUF LABAN SAMBERBORI Laki-laki October 3, 1965 Kampung Uri Waren I Waropen Bawah
58. JZ27HDL ZULKIPLI SYAIR B. Laki-laki April 15, 1982 Jl. Nuri RT. 02/01 Serui Kota Yapen Selatan
59. JZ27HDM TRIONO SUGENG Laki-laki March 9, 1973 Jl. Hang Tuah RT.02/03 Anotaurei Yapen Selatan
60. JZ27HDN ENDAH SURYANI Perempuan September 22, 1981 Jl. KPR BPD RT.04/05 Serui Kota Yapen Selatan
61. JZ27HDO SUMADJI Laki-laki April 5, 1967 Jl. ST. Rumbewas RT.04/04 Serui Kota Yapen Selatan
62. JZ27HDP UDIN EZRA Laki-laki May 20, 1977

Update 26.06.2017 

Sebenarnya belum semua saya catat karena periode tahun 2016-2017 ada gelombang III yang telah mendapkan Callsign-nya. Jika Callsign anda belum tertera disini silahkan hubungi admin ke Facebook atau email blog ini.

VHF MARINE CHANNEL LIST

thumbnail

Baca Juga

 VHF MARINE CHANNEL LIST - Ini hanya sebatas sharing saja agar kita mengetahui batas mana frekwensi yang digunakan mobile maritim di HT-nya atau alat komunikasinya. Kita tak bisa semena-mena menggunakan frekwensi ini karena radio sudah diatur oleh negara.

Handy Talky / Handy Talkie, atau yang disingkat menjadi HT adalah Radio Komunikasi 2 arah nirkabel atau tanpa kabel. Handy Talky untuk dapat berkomunikasi satu dengan yang lain menggunakan gelombang radio bermain di 2 frekuensi, frekuensi rendah atau VHF serta frekuensi tinggi atau UHF, range frekuensi VHF yang diperbolehkan di Indonesia adalah 136-174MHz, sedangkan UHF di frekuensi 330-520MHz, namun untuk penggunaan frekuensi-frekuensi sudah diatur oleh organisasi yang diakui oleh pemerintah.

Sama dengan sistem cara kerja Ponsel atau Telepon Genggam atau Telepon Seluler atau suka di singkat HP yang juga berkomunikasi dengan menggunakan gelombang radio. Hanya frekuensi yang digunakan berbeda, ponsel biasa di frekuensi tinggi atau UHF kalau di Indonesia di 800, 900, 1800 dan 1900 MHz.

VHF MARINE CHANNEL LIST





Semoga bisa bermanfaat !